Taat dan Setia kepada Tuhan merupakan anugerah. Taat dan setia dalam dunia ini bisa diperoleh melalui membaca, diskusi dan bercerita dengan orang lain. Oleh karena itu, tujuan dari blog ini adalah untuk menyediakan bahan bacaan yang membuat kita bisa mengerti dan mengenal seperti apa Tuhan yang kita kenal.
Sabtu, 28 Desember 2019
Minggu, 22 Desember 2019
Makna Natal Yang Sesungguhnya
SEMUA TENTANG NATAL
Oleh
Nelis Daka
Menurut tradisi gereja, semua gereja akan merayakan natal pada tanggal 25 Desember. Natal secara sederhana orang Kristen merayakan kelahiran Kristus.Natal merupakan penggenapan rencana Allah (Makadi, 2013). Dalam Alkitab terutama dalam Kitab Injil, kita melihat ada dua kitab yang secara jelas menolong orang Kristen untuk memahami makna Natal yang sesungguhnya.
1. Injil Matius.
Matius mencatat Natal dalam konteks bangsa Yahudi sedang menantikan mesias yang akan menolong mereka dari penjajahan Romawi. Dalam konteks ini, Natal adalah sukacita (Purba, 2016). Sukacita karena telah lahir seorang juruselamat. Orang-orang yang setia menantikan Juruselamat untuk membebaskan masalah dalam kehidupan mereka terutama kehidupan spiritual mereka.
Dari Injil Matius, Natal adalah kelahiran juruselamat yang memberikan kebebasan secara spiritual. Kelahiran Kristus adalah kabar sukacita terbesar bagi orang-orang percaya yang menantikan juruselamat. Bagaimana dengan orang percaya saat ini? seperti orang majus dari timur mereka datang dari jauh-jauh untuk menyembah Kristus. Hal apakah yang telah kita persiapkan agar hati kita siap untuk menyembah Kristus. Natal bukan sekedar perayaan yang bersifat seremonial yang hanya rutin dilakukan setiap tahun. natal adalah tentang bagaimana hidup kita benar-benar siap untuk hidup bagi Allah.
2. Injil Lukas
Lukas mencatat dalam konteks yang berbeda dimana masa penantian kelahiran Kristus sudah sangat dinantikan oleh mereka yang menantikan janji Tuhan dalam sukacita. Janji Tuhan sudah digenapi melalui pribadi Kristus. Bukankah ini merupakan sukacita yang besar bagi kita yang percaya kepadaNya.
Dari pembahasan singkat di atas, Kristus sudah datang dalam natal pertama. Natal pertama adalah natal dimana kasih Allah dinyatakan kepada manusia berdosa. Allah datang menjumpai manusia dalam diri dan pribadi Kristus untuk membebaskan manusia dari dosanya dan memberikan hidup kekal kepada umat pilihanNya. Sebagai orang yang sudah ditebus, kita harus bersyukur dan merayakan natal bukan diisi dengan hal yang bersifat hanya perayaan saja. Akan tetapi biarlah perayaan natal dilakukan sebagai bentuk refleksi kita apakah selamat ini kita sudah melakukan yang terbaik bagi Kristus.
Refrensi
Makadi, Rode Diah. "Korelasi Kelahiran Melalui Perawan Maria dan Ketidakberdosaan Yesus." Jurnal Antusias 2.3 (2013): 37-46.
Purba, Laura Rapika. "Aransemen Lagu Kidung Jemaat “Hai Dunia, Gembiralah” Pada Peringatan Kelahiran Yesus Kristus Dalam Format Paduan Suara dengan Iringan Orkes." (2016).
Sabtu, 30 November 2019
Ketika Semua hanya Mementingkan Diri dan Egoisme Merajalela: Sebuah Refleksi di Malam Minggu
Ketika semua hanya mementingkan diri dan egoisme merajalela: Sebuah reflkesi di malam minggu
Manusia menikmati kedudukannya yang begitu agung dalam ciptaan yang lainnya karena manusia menyandang gambar Allah (R.C. Sproul, 2005). Sebagai gambar dan rupa Allah manusia memiliki tanggung jawab untuk menjaga, memelihara dan memberdayakan alam ciptaan Tuhan untuk kemuliaan Allah bukan untuk memuaskan diri.
Memuaskan diri merupakan tindakan egois yang harus dihindari dalam kehidupan manusia yang adalah makhluk sosial. Manusia dikatakan sebagai makhluk sosial karena diciptakan oleh Allah yang berelasi dalam keTritunggalan. Sifat dari relasi ini adalah kekal. Relasi ini adalah relasi yang menyatakan kasih dalam kekekalan.
Pertanyaan yang mendasar adalah
1. Apakah saya sebagai manusia telah menjaga, memelihara dan memberdayakan alam ciptaan Tuhan dengan bertanggung jawab?
2. Apakah selama ini tujuan utama kita masih cenderung untuk memuaskan diri sendiri?
3. Allah kita adalah Allah yang berelasi dan relasi mereka bersifat kekal. Bagaimana dengan kita manusia yang diciptakan sebagai makhluk sosial, apakah masih tetap kita berelasi dengan orang lain untuk menyatakan kasih?
Dengan beberapa pertanyaan di atas, semoga menolong kita untuk kembali melihat hidup kita selama ini. apakah hidup kita sudah benar-benar memuliakan Tuhan.
Refrensi
R.C. Sproul. (2005). Makna Diri. Surabya, Indonesia: Momentum.
Selasa, 26 November 2019
Guru Menurut Pandangan Iman Kristen
Guru Menurut Pandangan Iman Kristen
Oleh
Nelis Daka (00000018061)
S00000018061@student.uph.edu
Guru dalam perspektif iman Kristen harus dipisahkan dari profesi. Guru dalam pandangan iman Kristen lebih pada bentuk pelayanan. Alasannya karena guru merupakan tugas yang sulit. Berdasarkan Yabokus 3:1 ditekankan bahwa jangan banyak di antaramu yang mau menjadi guru. Hal ini bukan karena soal mau atau tidaknya tetapi soal panggilan. Jika kita diberikan panggilan untuk mengajar, mendidik dan menyatakan kebenaran dalam bentuk pengajaran tidak ada masalah dalam teks ini. Inilah alasan jangan sembarangan menjadi guru. Guru menyatakan kebenaran dan setiap kebenaran pasti berasal dari Allah. Jika bukan kebenaran , maka teks ini benar yaitu akan menjadi dosa karena lidah.
Siapa Guru itu?
Yang perlu kita garis bawahi adalah bahwa semua manusia sudah berdosa. Akan tetapi bagi mereka yang sudah ada di dalam Kristus (sudah percaya) harus menyadari siapa diri mereka. Mereka sudah ditebus. Oleh karena itu, harus kerjakan keselamatan bukan kerjakan/ melakukan pelayanan atau tugas untuk diselamatkan. Dengan demikian, siapakah guru itu sebenarnya?.
Dr Geoff Beech dan Dr. Elizabeth Beech (2019) mengatakan bahwa guru adalah wakil Allah. Ini merupakan identitas yang sangat sulit. Sebagai wakil berarti melakukan setiap hal yang diperintahkan oleh yang diwakilkan. Jika kita tidak menyampaikan pesan atau hal-hal penting yang ingin disampaikan oleh yang kita wakilkan pada dasarnya kita bukan wakil. Menjadi wakil Allah dalam kelas dalam hal ini berarti seorang guru harus menyampaikan pesan dan maksdu Allah bagi anak didik.
Jannnes Eduard Sirait (2016) berpendapat bahwa seorang guru itu harus yang sudah lahir baru. Hal ini berkaitan dengan status guru itu. Guru adalah orang berdosa yang sudah dilahirbarukan oleh Roh Kudus. Lahir baru akan menolong setiap guru untuk mengerti identitas mereka (sebagai wakil Allah) dan tahu apa yang harus ia ajarkan (firman Tuhan). Status yang sudah lahir baru menjadikan setiap orang menjadi wakil Allah wakil di bumi. Sebagai orang yang sudah lahir baru tentunya pemikiran tentang guru bukan soal profesi tetapi guru adalah panggil untuk memberitakan firman Tuhan kepada semua bangsa di muka bumi ini.
Eliezer Rifai (2012) mengatakan bahwa sebagai orang yang sudah lahir baru dan merupakan wakil Allah pasti bergantung pada pribadi dan kuasa Roh Kudus. Roh Kudus yang memiliki tugas untuk melahirbarukan kita juga memiliki tugas penting untuk menjadikan pelayanan kita berhasil. Sebagai guru tentunya harus bergantung pada Roh Kudus agar setiap kebenaran yang disampaikan kepada siswa bisa tersampaikan dan bisa dipahami oleh siswa. Guru bisa menegerti kebenaran dan memiliki kemapuan untuk mengajarkan kebenaran itu karena Roh Kudus. Kasih adalah karakteristik utama yang harus dimiliki oleh seorang guru Kristen.
Tugas Guru dalam Pendidikan
Dalam Matius 28 merupakan salah satu dasar untuk pendidikan yaitu pergilah jadikan semua bangsa muridkan. Salah satu cara untuk menjadikan semua bangsa murid Tuhan adalah melalui ajarlah (didiklah). semua pengajaran paru guru adalah yang sudah diajarkan Kristus kepada umatNya. Pengajaran ini hanya kita dapatkan dalam Alkitab.
Menurut Dorothy C. Bass (2019) mentakakan bahwa tugas guru adalah mengajar dan mendidik. konten ajarannya yaitu:
- Mengajarkan ajaran Kristus,
- Kasih dan pengampunan serta
- Pengharapan
Dari penjelasan singkat diatas dapat dikatakan bahwa guru dalam pandangan iman Kristen adalah seorang yang berdosa namun sudah ditebussehingga ia menjadi wakil Allah untuk menyatakan dan mengajarkan kasih pengampunan dan pengaharapan di dalam Kristus. Menjadi guru yang berhasil tentunya hanya bergantung pada pribdai Allah ketiga yaitu Roh Kudus.
Refrensi:
Dr Geoff Beech dan Dr. Elizabeth Beech (2019). An ‘Integrality’ Model for
Teaching,” International Christian
Community of Teacher Educators Journal 14, no. 1 hal. 1–8
Dorothy C. Bass (2019). Practicing
Our Faith: A Way of Life for a Searching People
(Mineapolis: Fortress Press
Eliezer Rifai (2012). Pendidikan Kristen Dalam
Membangun Karakter Remaja Di Sekolah Menengah,” Jurnal Antusias 2, no. 2 hal. 179–93
Jannnes Eduard Sirait (2016). Pendidik Kristen Profesional,
Inspiratif Dan Menarik,” Regula Fidei
1, no. 1 hal. 33–62.
Selasa, 29 Oktober 2019
Pengantar Kitab Yunus
Pengantar
Kitab Yunus
Yunus
adalah salah satu tokoh Alkitab yang sangat terkenal, terutama cerita tentang
dirinya di perut ikan selama tiga hai tiga malam karena dia lari dari perintah
Tuhan. Kitab nubuatan Yunus ini berbeda
dengan kitab nubuatan yang lain karena menceritakan tentang biografi dari Yunus
sendiri dan tidak terlalu mencerminkan khotbah yang dikhotbahkannya. Yunus
digambarkan sebagai orang yang nasionalis, pro-Israel namun anti daerah asing
misalnya Asyur. Secara implisit Yunus adalah seorang nabi yang berdedikasi,
disiplin, berkemauan kuat, keras kepala. Namun, ia juga seseorang yang men coba untuk melawan kehendak Allah.
Penulis
dari kitab Yunus sendiri belum diketahui, namun narator dari kitab ini adalah
narator tunggal yang hidup setelah tahun 612, yaitu setelah Niniwe jatuh ke
Babel dan telah hancur. Hal ini dapat dilihat dari penggunaan kata “menjadi”
dalam bentuk yang lampau yang menggambarkan kota Niniwe dalam 3:3. Pertanyaan
yang dapat diajukan adalah mungkinkah penulis dari kitab Yunus ini adalah Yunus
sendiri? Sebenarnya bisa saja penulis kitab Yunus adalah Yunus sendiri, tetapi hal
itu bisa terjadi jikalau Yunus telah benar-benar bertobat dan dengan rendah
hati mengkarakterisasi dirinya sendiri dan bahkan seperti mempermalukan dirinya
sendiri. Kitab Yunus ini juga dapat dituliskan oleh pihak ketiga karena kitab
Yunus ini dengan konsisten mengkritik sikap hidup Yunus dan membeberkan
kemunafikan, ketidakkonsistenan dari Yunus sendiri dan tidak mungkin seorang
narator mencela dirinya sendiri.
Kemungkinan
kitab ini ditulis sekitar 750-250 SM. Sebagian besar dari ungkapan yang
dianggap asli dalam kitab ini adalah bahasa Aram Imperial (dan arena itu
ketika ditemukan di Perjanjian Lama, bukti tanggal kemungkinan dari tahun 587
SM). Kitab Yunus sangatlah berbeda dengan kitab-kitab nabi lainnya, sehingga
alasan penempatannya di kanon nubuatan nabi ke-15 memunculkan banyak perdebatan.
Beberapa ilmuan telah mengajukan agar kitab Yunus ditempatkan sebagai midrash
pada satu nabi lainnya karena kitab ini memiliki keserupaan dengan kisah Elisa
dan Elia.
Pesan
yang ingin disampaikan dari kitab ini bukan hanya mengajarkan kita untuk tidak
seperti Yunus, lebih dari itu kitab ini menekankan kepada pembaca pada
karakter dan kekuatan Tuhan serta mengajak pembaca secara implisit untuk
berpikir seperti apa Tuhan itu. Selain itu, kitab ini mengajarkan kepada pembaca
tentang pengampunan, dan kunci pesan yang ingin disampaikan dalam kitab ini
adalah pertanyaan ganda di 4:4 dan 4:9 “Apa gunanya Anda marah?” dan tidak
dapat dipungkiri bahwa setiap kita memiliki “Yunus” di dalam diri kita,
sehingga sangat penting bagi kita merenungkan pertanyaan ini.
Penulis:
Nelis Daka
Trinanda Adelvina Samben
Yohannes Yogi Ferdi
Penulis:
Nelis Daka
Trinanda Adelvina Samben
Yohannes Yogi Ferdi
Sabtu, 03 November 2018
You shall not make for yourself on Idol
Hukum
kedua serta Implikasinya dalam Pendidikan
“You
shall not make for yourself on idol”
Hukum yang kedua ini memiliki
prinsip moral yaitu Worship to God
(Ibadah kepada Allah). Penyembahan sejati hanya kepada Allah saja. Setiap penyembahan yang tidak kepada Allah
adalah salah atau tidak benar. Hukum kedua ini menuntut ketundukan penuh hanya
kepada Allah. Prinsip ini membawa kita keluar dari ibadah yang salah atau
keliru kepada ibadah yang sejati yaitu penyembahan yang hanya tertuju kepada
Allah.
The commandment has two parts. The first
restrains our license from daring to subject
God, who is incomprehensible, to our sense perceptions, or
to represent him by any form. The second part forbids us to worship any
images in the name of religion (Decalogue John
Calvin).
1.
Restrains our
license from daring to subject
God, who is incomprehensible, to our sense perceptions, or to represent him by any form.
Dari point ini ada sebuah tuntutan untuk hanya tunduk
kepada Allah saja. Ketundukan ini adalah ketundukan seluruh kehidupan (total).
Dalam hal ini ada prioritas yang jelas dalam menjalani kehidupan ini. Arah penyembahan menjadi sangat jelas yaitu
hanya kepada Allah saja.
2.
Forbids
us to worship any
images in the name of religion
Point yang kedua ini adalah bentuk larangan untuk
memuja gambar dalam bentuk apapun. Hal ini sama halnya dengan membuat bangsa
Israel sama dengan bangsa yang ada disekitar mereka. Ciri mereka yang berbeda
dengan kepercayaan atau penyembahan kepada Allah adalah dengan tidak memuja
atau membuat patung atau gambar yang menyerupai Allah.
Tujuan dari hukum
kedua ini adalah memberikan pandangan seperti apa penyembahan (Worship) atau
ibadah kepada Allah yang benar. Ibadah yang benar dan sah adalah ibadah yang
ditentukan oleh Allah sendiri. Ibadah diluar yang telah ditentukan oleh Allah
tidak sah (not lawful worship). Ibadah yang sah adalah ibadah yang bersifat
spiritual yaitu menyembah dalam roh dan kebenaran. Oleh karena itu, ibadah yang
sejati atau sah tidak harus dibarengi dengan seremonial atau upacara-upacara
keagamaan.
Penyembahan yang bukan kepada Allah merupakan
menyembahan yang menodai keilahian Allah. Fokus ibadah atau pusat penyembahan
kita adalah Allah. Standar ibadah yang dipakai adalah standar Allah. Prioritas
dalam hidup ini adalah penyembahan kepada Allah. Jika prioritas hidup kita
bukan Allah berarti kita sedang tidak menyembah Allah yang sejati. Oleh karena
itu, dilarang menyembah, berdoa dan memohon kepada allah-allah
lain selain Allah serta dilarang melakukan ibadah atau penyembahan yang salah
atau yang tidak sesuai dengan ketetapan Allah.
Implikasi dalam dunia
pendidikan
Melihat dari penjelasan di atas, banyak hal yang seharusnya tidak kita
lakukan. Sebagai contoh tujuan atau prioritas hidup kita. Prioritas hidup kita
harusnya Allah yang lebih utama bukan karier, kekuasaan ketenaran dan
kesuksesan. Di dalam Pendidikan Kristen seharusnya kita memberitakan kebenaran
ini yaitu penyembahan sejati hanya kepada Allah saja. Setiap kegiatan kerohanian
yang ada di sekolah seperti devosi guru atau siswa, pelajaran agama harus pusat
utamanya adalah Allah.
Mengapa kita harus belajar? Tujuan utama dalam belajar adalah untuk
mengenal Allah. Belajar untuk takut akan Tuhan, menghormati serta tunduk pada otoritas
Allah termasuk di dalamnya bagaimana kita beribadah kepada Allah. Ibadah yang
dilakukan dalam pendidikan bukan hanya ibadah yang bersifat tidak penting atau
hanya pelengkap kurikulum. Ibadah yang benar dan sejati pasti mengubah hidup
begitu juga dalam belajar. Ibadah yang berpusat kepada Allah membuat siswa dan
guru:
1.
Hormat kepada Allah
Ibadah apapun yang kita lakukan
seharusnya merupakan ibadah yang berlndasakn hormat kepada Allah. seperti yang
sudah dijelaskan di awal bahwa hukum kedua ini menuntut kita untuk tunduk hanya
kepada Allah. Sikap tunduk kita kepada Allah adalah bentuk hormat kita kepada
Allah karena Ia telah menjaga dan memelihara hidup kita. Rasa hormat kepada
Allah ini terlihat lewat setiap hal yang kita kerjakan dalam dunia Pendidikan.
Apakah setiap hal yang kita kerjakan tujuannya untu kemuliaan Allah atau untuk
kemuliaan diri.
2.
Kagum kepada Allah
Melalui ibadah
yang kita lakukan seharusnya membuat kita kagum akan karya Allah dalam hidup
kita. Hal yang bisa kita lakukan dalam Pendidikan adalah menyertakan
siswa dalam pembelajaran dan mengubah model atau strategi pembelajaran sesuai dengan dengan pengalaman hidup mereka. Selain itu juga, seorang guru harus menyertakan
siswa dalam pengalaman-pengalaman
kehidupan rohani yang semakin mengasah rasa kagum mereka kepada Allah.
3.
Bersyukur kepada Allah
Bersyukur kepada Allah atas pemeliharaan dan penyertaannya dalam hidup
kita. Melalui ibadah biarlah siswa atau para murid belajar untuk bersyukur
kepada Allah. Mereka masih diberikan kesempatan untuk belajar juga merupakan
anugerah yang seharusnya membuat mereka bersyukur. Bersyukur dan kagum kepada
Allah adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Dalam setiap pembelajaran atau
materi yang disampaikan seharusnya membuat siswa kagum dan bersyukur kepada
Allah yang adalah sumber hikmat, pengetahuan dan kebenaran.
Ibadah adalah penyembahan kepada Allah yang melebih
dari upacara-upacara yang terbatas buatan manusia. Penyembahan atau ibadah
kepada Allah tidak terlepas dari perbuatan kita. Seluruh kehidupan kita seharusnya menjadi penyembahan kita kepada Allah.
Prioritas dalam hidup ini seharusnya untuk kemuliaan Allah.
Refrensi
Calvin, J. Decalogue: Explanation of The Moral Law
(The Ten Commandments)
Materi dari mata kuliah Etika Kristen, Kamis 1 Oktober 2018.
Selasa, 11 September 2018
Manusia dan Akal Budinya
Manusia dan Akal Budi
Oleh Nelis Daka
A. Pendahuluan
Manusia adalah
makhluk yang unik dari segala makhluk yang diciptakan Tuhan. Manusia diciptakan
berbeda dari makhluk yang lainnya. Hanya manusia yang memiliki akal budi. Akal
budilah yang menjadikan manusia unik dari segala ciptaan. Keunikan inilah yang
membedakan manusia dengan ciptaan lainnya. Dengan akal budi yang dimiliki
manusia, manusia memiliki pertimbangan moral dari setiap keputusan yang
diambilnya.
Akal budi manusia
mengalami perkembangan seiring dengan pertumbuhannya. Semakin ia dewasa, akal
budi manusia semakin lebih baik. sejak manusia jatuh dalam dosa, akal budi
manusia sudah tercemar dalam dosa. Kecenderungan akal budi manusia memutuskan
untuk bertindak, berpikir untuk melakukan dosa. Pembaharuan akal budi harus
diperlukan untuk hidup lebih baik lagi.
Melalui esay ini penulis akan membahas topik
mengenai manusia dan perkembangan akal budi. Topik ini penulis akan membahas
mengenai penciptaan manusia, definisi akal budi dan perkembangannya serta tujuan
Allah memberikan akal budi kepada manusia. Melalui dari pendukung topik di atas
penulis berharap agar pembaca mengerti betapa pentingnya akal budi dalam
keberadaan manusia di muka bumi ini.
B. ISI
1. Penciptaan Manusia
Manusia adalah
makhluk hidup. Teori mengenai asal usul makhluk hidup berbeda-beda. Menurut teori Abiogenesis yang dikemukakan oleh Aristoteles (384-322 SM) seorang ahli
filsafat dan ilmu pengetahuan Yunani Kuno, bahwa makhluk hidup yang pertama
berasal dari benda tak hidup. Teori ini dilawan oleh teori biogenesis dimana
tokohnya adalah Francesco Redi (1626-1697), Lazaro Spallazani (1729-1799) dan
Louis Pasteur (1822-1895). Dari hasil percobaan yang dilakukan oleh Louis
Pasteur muncullah teori biogenesis yang menyatakan bahwa “omne vivum ex ovo,
omne ovum ex vivo”, yang berarti setiap makhluk hidup berasal dari telur,
setiap telur berasal dari makhluk hidup” (Sumarjito, 2002) h. 114-117).
Berdasarkan teori Abiogenesis dan teori Biogenesis
dapat kita melihat perbedaan mengenai asal usul manusia. Dalam perspektif
Kristen, manusia diciptakan langsung oleh Allah menurut gambar dan rupa Allah.
Manusia diciptakan Allah serupa dengan Tuhan secara mental, spiritual, dan
jasmaniah serta memiliki keunikan yaitu kemampuan rasionalnya (Knight, 2009 h.
246-247). Manusia ada dan bisa hidup karena Allah. Penciptaan manusia berbeda
dari penciptaan makhluk hidup lainnya. Manusia dibentuk secara langsung oleh
Allah tanpa melalui firman. Selain itu juga, manusia diberikan akal budi
sehingga manusia dapat menjaga dan mengelola bumi dengan baik. Akal budi
merupakan keunikan atau ciri khas yang membedakan manusia dengan ciptaan
lainnya.
2. Definisi akal budi dan Perkembangannya
Akal budi merupakan percakapan yang paling berharga
oleh karena akal budi menawarkan pengetahuan dunia sekuler, selain itu
menantang dogma dan juga takhayul, serta mengatur keinginan dan nafsu yang ada
dalam pikiran manusia (Parekh, 2008). Akal budi adalah aspek penting dalam
hidup manusia, bukan hanya dalam hal pengambilan keputusan tetapi akal budi
yang sehat juga membantu manusia
menyeimbangkan setiap aspek didalam hidupnya.
Akal budi adalah
pemberian Tuhan di dalam kehidupan manusia yang dengan akal budi manusia dapat
berpikir sehat dan berpikir secara runut (Huijbers,
1982). Akal budi manusia
memiliki perkembangan dalam tahapan perkembangan hidupnya. Tahapan ini
biasanya dimulai dari sejak kelahiran sampai remaja akhir. Seperti yang lumrah
terjadi yaitu ketika bayi belajar mengenali dan berbicara. Berikut adalah
tahapan perkembangan akal budi manusia menurut Peaget dalam buku Pendidikan
Agama Kristen karya Thomas Groome “ tahap sensori motor (sejak lahir - 2
tahun), tahap pra-operasional (2-7 tahun), tahap operasional konkret (7-12
tahun), dan tahap operasional formal (12 - 12 tahun ke atas)” (Groome, 2010).
Kekristenan
mempercayai adanya kehendak bebas dalam diri setiap manusia. Pertanyaannya
adalah apakah ada hubungan antara akal budi dan kehendak bebas? Jawabannya
adalah tentu saja ada, karena dalam proses kehidupan, manusia pasti akan ada
masa dimana harus mengambil sebuah keputusan di antara banyak pilihan. Dalam
hal ini akal budi dan kehendak bebas akan bekerja aktif dalam pengambilan
keputusan yang terbaik.
3. Tujuan Allah
memberikan akal budi kepada manusia
Manusia bukanlah
robot yang dikendalikan atau tanpa kehendak bebas. Kemampuan
berpikir adalah pemberian Allah yang patut disyukuri dan menjadi tanggung jawab
kita untuk menggunakannya dengan baik. Sebagai mahkota ciptaan, manusia sangat berbeda dari
ciptaan lainnya. Allah menciptakan akal budi semata-mata
untuk kepentingan kita dan untuk kemuliaan Allah. Tantangan manusia dalam mengembangkan
akal budinya adalah saat mereka mengetahui perbedaan di antara sesamanya, terutama bagi orang
Kristen tantangannya ketika mereka diperhadapkan oleh iman mereka dengan
pemikiran modern (Jr, 2003).
Dalam Roma 12: 2
dikatakan bahwa “janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi
berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan
manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang
sempurna”. Dalam Matius 22:37 dikatakan bahwa “Kasihilah Tuhan
Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap
akal budimu” (Matius 22:37).
Dari kedua ayat kita melihat betapa pentingnya akal budi. Dengan akal budi yang
baik kita bisa mengerti kehendak Allah, apa yang baik, berkenan dan sempurna.
Selain itu, akal budi merupakan sarana untuk mengasihi Allah.
Pengetahuan atau
akal budi manusia sangat terbatas. Apa yang ditemukan manusia hanyalah refleksi
yang samar-samar dan dangkal tentang penciptaan Allah yang kaya tanpa batas
(Van Brummelen, 2008). Hal ini
terjadi akibat manusia telah jatuh dalam dosa. Manusia lebih cenderung
melakukan tindakan-tindakan yang terlihat baik namun tetap dalam motivasi yang
salah, hal ini diakibatkan karena akal budi manusia telah digelapkan oleh dosa (Wellem, 2004). Ini adalah fakta yang harus
kita terima dengan keberadaan kita setelah kejatuhan manusia dalam dosa.
Melihat dari pemahaman di atas kita harus sadari bahwa
kita tidak mampu lagi mengerti kehendak Allah. Contohnya, seorang anak kecil
tanpa diajari berbohong pasti akan berbohong dengan sendirinya. Oleh karena
itu, dalam konteks pendidikan para guru harus paham akan hal ini. Para murid
sudah jatuh dalam dosa dan cenderungannya adalah melakukan tindakan yang tidak
benar di hadapan Allah.
C. Kesimpulan
Manusia adalah ciptaan Allah yang sangat unik.
Keunikan manusia ditandai dengan adanya akal budi. Akal budi manusia mengalami
perkembangan yang tidak terlepas dari tanggung jawab. Dengan adanya akal budi
dalam diri manusia, Allah memberikan mandat untuk beranak cucu
dan menguasai bumi (Kej. 1:28). Untuk menjalankan ini, kita perlu belajar akan
ciptaan Tuhan dan mencari apa yang tersembunyi dalam ciptaan Allah. Dengan
melakukan ini, kita belajar akan keagungan Tuhan dan menumbuhkan kemampuan kita
untuk memuji dan memuliakan Allah.
Seluruh
pengetahuan, ilmu, sains,
matematika, seni, filsafat, kedokteran
dan sebagainya adalah semata-mata pengkategorian yang dilakukan oleh manusia.
Karena itu, seluruh pendidikan untuk orang-orang Kristen haruslah berpusat pada
Allah karena hal itu akan menyingkapkan keagungan ciptaan Allah. Ratu dari
pendidikan ilmu pengetahuan haruslah Teologi Alkitabiah. Kita harus tahu bahwa sumber utama pengetahuan adalah
dari Tuhan (Amsal 1:7). Oleh karena itu, dengan adanya akal budi seharusnya
menolong manusia untuk memahami identitasnya sebagai gambar dan rupa Allah,
dimana Allah sendirilah yang membentuk manusia, memberikan akal budi serta
nafas kehidupan untuk memuliakan Dia disepanjang hidup manusia.
Refrensi
Groome,
T. H. (2010). Christian Religious Education. Jakarta: Gunung Mulia
Huijbers, D.T.
(1982). Filsafat hukum dalam lintas sejarah. Yogyakarta: Kanisius
Jr, G.E. (2003). Dengan
Segenap Akal Budi. Jakarta: Gunung Mulia
Knight, G.R. (2009). Filsafat dan Pendidikan:
Sebuah Pendahuluan dari Perspektif Kristen. Jakarta: Universitas Pelita
Harapan.
Parekh, B. (2008). Rethinking Multiculturalism.
Yogyakarta: Kanisius
Sumarjito. (2002). Panduan Belajar Kelas 12 SMA IPA.
Yogyakarta: Primagama
Van Brummelen, H. (2008). Batu Loncatan Kurikulum.
Jakarta: Universitas Pelita Harapan
Wellem, F. (2004). Injil dan Marapu. Jakarta:
Gunung Mulia.
Langganan:
Postingan (Atom)
Tanda Gereja yang Sejati.
3 Tanda Gereja yang sejati Oleh Nelis Daka Menurut Calvin, seorang reformator mengatakan bahwa di luar gereja tidak ada keselamatan. Menurut...
-
Filemon 1:4-7 Ucapan Syukur Oleh Nelis Daka Ketika Paulus menulis surat ini, Paulus sedang berada dalam penjara. Keadaan bera...
-
Ibrani 13:1-16 (Nasihat untuk memelihara kasih persaudaraan) Ibrani merupakan suatu himbauan yang mengingatkan bahwa kita harus maju, b...
-
Yohanes 6:67-71 Pengakuan Petrus A. Apa yang dibaca 1. Yesus Ø Yesus bertanya kepada kedua belas murid-Nya: ...